Pemuda Tiongkok Mualaf, Doa Bahasa Mandirin yang Mustajab
Dalam tradisi keagamaan kita, menempuh perjalanan jauh demi sowan dan ngalap berkah doa dari para kiai atau orang saleh adalah hal yang lumrah. Namun, di sela-sela hiruk-pikuk kehidupan, kita sering melewatkan satu momen langka di mana pintu langit benar-benar terbuka tanpa hijab: detik-detik pertama ketika seseorang baru saja selesai mengikrarkan dua kalimat syahadat.
Pada hari Sabtu, 3 Oktober 2026, sebuah peristiwa spiritual yang sarat makna keilmuan dan ukhuwah berlangsung di Masjid Besar Al-Hidayah. Pimpinan Cabang Dewan Masjid Indonesia (PC-DMI) Cikarang Barat memfasilitasi majelis ikrar syahadat untuk seorang pria asal Tiongkok (China) bernama Sun Jiadong. Majelis ini dihadiri oleh jajaran teras PC-DMI, mulai dari Ketua PC Adi Nurseha, Wakil Ketua Heru Komarudin, Sekjen Solikhin, jajaran bendahara Romli dan H. Rebo Iman, hingga Ketua Ranting DMI Telajung.
Kehadiran Sun Jiadong untuk memeluk Islam adalah representasi nyata dari prinsip fundamental Al-Qur’an. Dalam ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah, perpindahan keyakinan tidak boleh dilandasi oleh intimidasi, tekanan, atau paksaan. Allah SWT berfirman secara tegas:
لَآ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِ ۗ قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَّكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ ٢٥٦
Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam). Sungguh, telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Siapa yang ingkar kepada tagut dan beriman kepada Allah sungguh telah berpegang teguh pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. — QS. Al-Baqarah: 256
Ayat ini menjadi dalil mutlak bahwa langkah Sun Jiadong bersyahadat di hadapan para pengurus masjid dan jamaah adalah murni ketetapan hidayah yang menyentuh relung hatinya. Ia datang dengan kesadaran, dan umat menyambutnya dengan tangan terbuka.
Lebih dalam lagi, ada dimensi teologis yang sangat mendasar di balik penyambutan ini. Dalam majelis tersebut, Ketua PC-DMI, Adi Nurseha, secara khusus meminta Sun Jiadong untuk mendoakan para hadirin sesaat setelah ia resmi bersyahadat. Permintaan ini bukan tanpa alasan. Sang Ketua menegaskan bahwa Sun Jiadong saat itu berada dalam keadaan suci, sehingga doanya sangat mustajab dan dikabulkan oleh Allah.
Pernyataan ini memiliki pijakan dalil yang amat kokoh dalam literatur hadis yang menjadi rujukan ulama pesantren. Ketika sahabat Amr bin al-Ash ragu untuk berbaiat masuk Islam karena memikirkan tumpukan dosanya di masa lalu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ الْإِسْلَامَ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ”
“Tidakkah engkau tahu bahwa sesungguhnya Islam itu menghapuskan dosa-dosa yang sebelumnya?” — HR. Muslim No. 121.
Berdasarkan dalil ini, seorang mualaf layaknya bayi yang baru lahir dari rahim ibunya. Lembaran buku amalnya diputihkan. Dosanya luruh seketika, namun—berdasarkan riwayat Bukhari—amal-amal kebaikan yang pernah ia lakukan di masa lalu tetap dicatat sebagai pahala. Kesucian fundamental inilah yang membuat doa seorang mualaf di detik-detik awal keislamannya sangat diburu untuk di-amini (tabarruk/mengambil berkah).
Momen klimaks di Masjid Besar Al-Hidayah itu pun tak terelakkan. Merespons permintaan tersebut, Sun Jiadong menengadahkan tangannya. Karena belum menguasai bahasa Indonesia, ia melangitkan doa menggunakan bahasa asalnya, bahasa Mandarin. Jamaah yang hadir serentak menunduk, mengaminkan untaian kalimat yang secara harfiah sama sekali tidak mereka pahami kosakatanya. Namun, di titik itulah ketauhidan bekerja pada frekuensi tertingginya: doa yang keluar dari lisan jiwa yang bersih akan langsung menembus langit, dan diaminkan oleh hati-hati yang beriman.
Secara psikologis dan spiritual, fenomena ini menyadarkan kita pada esensi kehadiran jamaah. Mengapa PC-DMI mengundang umat secara luas? Hadirnya para pengurus dan masyarakat di majelis syahadat sebenarnya bukan sekadar untuk menyambut mualaf, melainkan untuk merekonstruksi dan memperbarui iman (tajdidul iman) mereka sendiri.
Dalam tradisi para ulama, jika seseorang dianjurkan berziarah kubur (ziyarah al-qubur) untuk mengingat kematian, maka menyaksikan langsung seseorang mengucap syahadat berfungsi untuk mengingat kembali “perjanjian purba” (mitsaq) kita dengan Allah. Kita yang terlahir sebagai Muslim kadang menerima iman ini sebagai kewajaran (given), sehingga sering kali lalai. Menyaksikan seorang dari ujung dunia yang berbeda dengan sukarela bersujud pada syariat Muhammad ﷺ, menjadi tamparan halus sekaligus penyejuk batin yang mengecas ulang keteguhan iman jamaah.
Pada akhirnya, syahadat adalah peristiwa kelahiran ruhaniyah. Ia meruntuhkan dinding pembatas antarnegara dan bahasa, meleburkan seorang Sun Jiadong ke dalam lautan ukhuwah Islamiyah yang tak bertepi.
Hati yang terkoneksi oleh kalimat La ilaha illallah akan selalu mengerti maksud dari setiap doa, meskipun ia diucapkan dalam bahasa Mandarin. Karena keikhlasan, tidak pernah membutuhkan kamus untuk bisa dipahami oleh Tuhan dan diaminkan oleh manusia.
===========
Referensi:
-
Dalil Al-Qur’an (High Confidence):
-
QS. Al-Baqarah ayat 256. (Prinsip La ikraha fiddin / tidak ada paksaan dalam agama).
-
-
Hadis (High Confidence):
-
Shahih Muslim, Kitab Al-Iman, Bab Bayan Kaunil Islam Yahdimu Ma Qablahu, Hadis No. 121. (Sabda Nabi ﷺ kepada Amr bin al-Ash mengenai masuk Islam yang menghapus dosa masa lalu).
-
-
Dokumen & Fakta Lapangan (High Confidence):
-
Referensi Internal: Rekaman Audio dan Video
. (Menjadi rujukan faktual untuk tanggal acara 3 Oktober 2026, lokasi di Masjid Besar Al-Hidayah, kehadiran pengurus PC-DMI Cikarang Barat [Adi Nurseha, dkk], serta momen Sun Jiadong berdoa menggunakan bahasa China karena kondisinya yang suci).
-