📅 Masehi: Kamis, 24 September 2026 ; 🌙 Hijriah: الْخَمِيس (Al-Khamis) 12 Rabiul Akhir 1448 H
SUARA DMI

Menjaga Hidayah Pasca-Syahadat: Langkah Tekun Elviana Dua Mijang Belajar Sholat Bersama DMI Cikarang Barat

👁️ 18 Pembaca
Mengucapkan dua kalimat syahadat sering kali dilihat sebagai puncak dari sebuah perjalanan spiritual. Momen itu penuh dengan air mata, pelukan, dan rasa haru. Namun, banyak yang melupakan satu realitas penting: syahadat barulah gerbang pertama. Perjalanan yang sesungguhnya—yang jauh lebih sepi dan menantang—baru saja dimulai ketika seorang mualaf harus mengeja huruf hijaiyah satu demi satu, atau ketika mereka berdiri kebingungan mempelajari gerakan sholat untuk pertama kalinya. Di titik inilah, keberadaan saudara seiman menjadi sangat krusial.

Menyadari bahwa hidayah harus dirawat dengan ilmu, Pengurus Cabang Dewan Masjid Indonesia (PC DMI) Cikarang Barat mengambil langkah nyata dalam pendampingan umat. Hal ini terlihat jelas dalam agenda pembinaan berkelanjutan yang diberikan kepada saudari kita, Elviana Dua Mijang, seorang mualaf yang kini tengah berproses menyempurnakan ibadahnya.

Setelah sebelumnya melewati fase pembelajaran tahsin untuk memperbaiki bacaan Al-Qur’an, kini langkah Elviana berlanjut pada pembelajaran tata cara sholat. Proses ini tidak berjalan sendiri. Ia dibimbing secara langsung dan intensif oleh Ketua Bidang Potensi Pemberdayaan Muslimah (Podayamus) PC DMI Cikarang Barat, Hj. Nur Andarini, S.Pd.I. Pendampingan ini memastikan bahwa Elviana mendapatkan pemahaman yang benar, baik secara bacaan maupun gerakan (fikih sholat), dengan pendekatan yang penuh keibuan dan kesabaran.

Kegiatan pembinaan ini mendapat adalah Salahsatu program Podayamus dengan  dukungan penuh dari Ketua PC DMI Cikarang Barat, Bapak Adi Nurseha, M.Pd., beserta seluruh jajaran pengurus. Kehadiran mereka di Kantor Sekretariat DMI Cikarang Barat bukan sekadar simbol administratif, melainkan wujud nyata dari fungsi masjid dan lembaganya sebagai pusat peradaban dan pendidikan umat.

Dalam Islam, menjaga dan mengajari mualaf adalah sebuah tanggung jawab kolektif (fardu kifayah). Ketika seseorang masuk Islam, ia ibarat bayi yang baru lahir, yang membutuhkan tuntunan agar tidak tersesat dalam ketidaktahuan. Apa yang dilakukan oleh jajaran DMI Cikarang Barat menunjukkan sebuah ketekunan dan komitmen tingkat tinggi. Mereka memahami bahwa mengajarkan agama kepada mualaf tidak bisa dilakukan dengan tergesa-gesa. Ada proses psikologis dan adaptasi kebiasaan yang harus dihargai.

Dari tahsin menuju sholat. Ini adalah alur belajar yang sangat logis dan berdasar. Sholat adalah tiang agama, namun sholat yang sah membutuhkan bacaan Al-Fatihah yang benar. Pendekatan bertahap yang diterapkan oleh Hj. Nur Andarini memastikan bahwa mualaf tidak merasa terbebani, melainkan merasa dirangkul dalam setiap fase pembelajarannya.

Komitmen pembinaan yang ditunjukkan oleh PC DMI Cikarang Barat memberikan pesan kuat bagi lembaga-lembaga keislaman lainnya. Bahwa program pemberdayaan umat (terutama muslimah) yang paling esensial bukanlah yang paling megah, melainkan yang paling konsisten menyentuh akar kebutuhan umat—menjaga akidah dan memfasilitasi ibadah.

Pada akhirnya, apa yang tampak sebagai sebuah agenda rutin pembelajaran sholat di pelataran kantor DMI Cikarang Barat, sejatinya adalah proses membangun fondasi keimanan yang kokoh untuk satu jiwa. Dan dalam pandangan Islam, menyelamatkan dan membimbing satu jiwa adalah sebuah pencapaian yang tak ternilai harganya.

Bagi Elviana, dan para mualaf lainnya, masjid dan komunitas muslim sekitarnya adalah keluarga baru mereka. Setiap bimbingan yang diberikan oleh Ibu Hj. Nur Andarini dan jajaran DMI PC Cikarang Barat  akan menjadi amal jariyah yang tak terputus. Sebab, setiap kali Elviana kelak mengangkat tangan untuk takbiratul ihram, pahala itu akan mengalir kepada mereka yang pertama kali mengajarkannya.