Sinergi ‘Suara Rakyat’ Bpk. Surya dan DMI Cikarang Barat untuk Agenda Umat
Bicara soal pemilihan kepala desa, hal pertama yang sering terlintas di kepala banyak orang adalah modal raksasa dan politik amplop. Rumus tak tertulisnya: siapa yang punya logistik paling kuat, dia yang menang. Namun, di Desa Mekarwangi, rumus usang itu berhasil dipatahkan oleh seorang pria yang modal utamanya hanyalah keberanian dan kedekatannya dengan urat nadi masyarakat.
Sebelum membicarakan masa depan Mekarwangi, kita perlu menengok masa lalu Bpk. Surya. Perjalanan politik Kepala Desa Terpilih ini jauh dari kata mulus. Rekam jejaknya diwarnai dengan penolakan; ia pernah dua kali merasakan pahitnya kegagalan saat mencalonkan diri sebagai anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Bagi kebanyakan orang, gagal dua kali di tingkat BPD sudah cukup menjadi alasan untuk mundur dari panggung politik desa.
Namun, kegagalan itu rupanya menjadi semacam kawah candradimuka. Saat bursa pemilihan Kepala Desa dibuka, Bpk. Surya mengambil keputusan nekat. Ketika rekan-rekannya meragukan isi kantongnya untuk bertarung di level kades, ia menjawab dengan kejujuran yang lugas: “Memang Abang punya duit? Bicara duit mah saya mah belakangan, yang penting saya punya mental berani bae”.

Alih-alih membangun kekuatan lewat serangan fajar, Bpk. Surya memilih jalur grassroots—turun langsung dari pintu ke pintu, duduk bersama para sepuh dan orang tua, dan berbicara dalam “bahasa kampung” agar tak ada jarak birokrasi antara dirinya dan warga. Kemenangannya adalah kemenangan organik, yang kemudian membuatnya dijuluki oleh masyarakat setempat sebagai ikon “Suara Rakyat”.
Silaturahmi Tanpa Sekat di Bawah Pohon Kepemimpinan otentik inilah yang menjadi latar belakang pertemuannya dengan pengurus Dewan Masjid Indonesia (DMI) Pimpinan Cabang (PC) Cikarang Barat. Alih-alih di ruang rapat ber-AC dengan meja formal, Bpk. Surya menyambut rombongan DMI dengan kesederhanaan dan kehangatan khas pedesaan—di sebuah lapangan, tepat di bawah rindangnya pepohonan. Tempat ini menjadi panggung bersatunya visi pengabdian desa dengan agenda keumatan.
Hadir dalam pertemuan tersebut sebuah formasi lengkap dan strategis dari DMI PC Cikarang Barat. Rombongan ini dipimpin langsung oleh Ketua, Adi Nurseha, M.Pd., didampingi oleh Wakil Bendahara, H. Rebo Iman dan juga Jajaran Tim Bidang lainnya.
Sinergi Program: Dari BPJS hingga Digitalisasi
Di bawah naungan pohon itu, formasi DMI membedah cetak biru program mereka yang langsung beririsan dengan kebutuhan warga Mekarwangi. Bukan sekadar wacana normatif, DMI membawa solusi konkret:
-
Proteksi Sosial: Program BPJS Ketenagakerjaan bagi marbot dan pengurus musala/masjid, memberikan jaminan santunan bagi pahlawan-pahlawan rumah ibadah yang sering luput dari perhatian.
-
Sertifikasi dan Advokasi Hukum: Bantuan penyuluhan hukum gratis terkait legalitas tanah wakaf masjid dan musala, agar tidak menjadi sengketa di kemudian hari.
-
Transparansi Berbasis Digital: Rencana digitalisasi sistem masjid yang akan dikawal oleh Bidang Multikasi, termasuk penggunaan layar LED untuk transparansi laporan keuangan masjid agar bisa diakses langsung oleh masyarakat.
Dari kacamata psikologi sosial, apa yang ditunjukkan oleh Bpk. Surya memenuhi kriteria Authentic Leadership (Kepemimpinan Otentik) dari Walumbwa dkk. (2008). Karena kemenangannya diraih tanpa politik uang, Bpk. Surya memiliki apa yang disebut sebagai internalized moral perspective—ia merdeka untuk memimpin tanpa adanya “utang budi” kepada pemodal besar. Transparansi relasionalnya di lapangan membuktikan bahwa ia tidak membutuhkan tembok birokrasi untuk merasa berwibawa.
Dalam kerangka tradisi fiqih Nahdlatul Ulama (NU), profil kepemimpinan seperti ini sangat ideal untuk menjalankan kaidah: Tasharruful imam ‘alar ra’iyyah manutun bil maslahah (Kebijakan seorang pemimpin terhadap rakyatnya harus berakar pada kemaslahatan). Bpk. Surya mewakili kriteria pemimpin dalam QS. Al-Qasas: 26, yakni Al-Qawiy (bermental kuat/berani) dan Al-Amin (dapat dipercaya oleh rakyatnya).
Bertemunya frekuensi perjuangan. Bpk. Surya yang sedari awal bertekad “mengabdi buat masyarakat untuk 8 tahun ke depan”, secara natural menyambut baik infrastruktur keumatan yang ditawarkan oleh tim Adi Nurseha dan jajaran DMI. Tidak ada resistensi administratif, yang ada hanyalah visi yang sejalan.
Diskusi beralih pada langkah-langkah teknis. DMI PC Cikarang Barat merencanakan pembentukan Ranting DMI di tingkat desa tersebut. Hal ini krusial agar pembagian kerja, mulai dari ekonomi kerakyatan oleh H. Ir. Maslakhul Maswan hingga pemberdayaan remaja oleh Nur Ali, S.Ag, dapat segera dieksekusi secara terstruktur bersama perangkat desa.
Peristiwa di Mekarwangi ini membuktikan bahwa energi perubahan terkuat justru berada di akar rumput. Bpk. Surya, dengan legitimasi kuatnya sebagai “Suara Rakyat”, menjadi katalisator yang tepat bagi program terukur DMI PC Cikarang Barat. Birokrasi pemerintahan desa dan gerakan ormas ternyata bisa menyatu dengan sangat luwes ketika keduanya memiliki titik temu yang sama: melayani kemanusiaan.
Peradaban umat yang besar tak selalu harus direncanakan di balik gedung mentereng. Terkadang, gagasan untuk memuliakan marbot, melindungi tanah wakaf, dan membangun pemuda, justru lahir dan matang dari obrolan jujur yang ditemani angin sepoi-sepoi di bawah rindangnya pepohonan.
