Artikel sejarah Islam mengulas perjalanan Maulana Jalaluddin Ar-Rumi (lahir 604 H), seorang ulama mazhab Hanafi, penyair, dan tokoh tasawuf besar asal Balkh yang membumikan ajaran Mahabbah (Cinta kepada Allah).
Di pentas sejarah peradaban Islam, sedikit tokoh yang karya dan pemikirannya mampu melintasi batas zaman, bahasa, dan geografi seperti Maulana Jalaluddin Ar-Rumi. Lahir di Balkh pada tanggal 6 Rabiul Awal 604 Hijriah (bertepatan dengan 30 September 1207 M), Rumi tidak hanya dikenal sebagai penyair mahamahir, tetapi puncaknya adalah kapasitas beliau sebagai ulama fiqih dan tokoh sufi besar yang mengajarkan kemurnian cinta kepada Allah SWT.
DARI ULAMA FIQIH MENUJU JALAN MAHABBAH
Banyak pihak dewasa ini mengenal Rumi hanya dari bait-bait puisinya tanpa memahami akar keilmuan beliau yang mendalam. Rumi adalah putra dari Bahauddin Walad, seorang teolog dan ahli hukum terkemuka pada masanya. Sebelum terjun sepenuhnya ke jalan tasawuf, Rumi adalah seorang mufti dan pengajar madrasah yang sangat menguasai syariat, khususnya dalam lingkup mazhab Hanafi.
Titik balik spiritualitas Rumi terjadi ketika beliau bertemu dengan guru spiritualnya, Syamsuddin At-Tabrizi. Pertemuan ini mengubah fokus Rumi dari sekadar pengajar ilmu-ilmu lahiriah (syariat) menuju penyelaman ilmu batiniah (hakikat), yang kelak melahirkan mahakarya abadi seperti Al-Matsnawi (Mathnawi).
Inti ajaran tasawuf Jalaluddin Rumi adalah Mahabbah (Cinta yang teramat sangat kepada Allah).
Konsep ini berakar kuat pada dalil-dalil Al-Qur’an, salah satunya:
Surah Al-Baqarah Ayat 165: وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ “…Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah…”
Surah Al-Ma’idah Ayat 54: يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ “…Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya…”
Dalam literatur ulama klasik, ajaran Rumi dipandang sebagai manifestasi penggabungan antara syariat dan hakikat. Karya Al-Matsnawi yang berisi puluhan ribu bait syair kerap dijuluki oleh ulama sejarah sebagai “Qur’an dalam bahasa Persia” (tentu bukan dalam arti menyamai Al-Qur’an, melainkan sebagai tafsir puitis atas ayat-ayat Al-Qur’an).
Syekh Abdul Qadir Isa dalam Haqaiq ‘an At-Tasawwuf menjelaskan bahwa tasawuf yang benar tidak pernah lepas dari syariat. Demikian pula Rumi; kedalaman rasa cintanya kepada Allah justru berangkat dari kepatuhan mutlaknya kepada tauhid dan ajaran Rasulullah SAW. Puisi-puisinya adalah medium dakwah untuk melembutkan hati yang keras agar kembali menautkan diri kepada Sang Khalik.
Di era modern yang kerap diwarnai oleh materialisme dan kegersangan spiritual, mempelajari jejak Jalaluddin Rumi memberikan oase penyejuk. Pesan Rumi mengingatkan umat Islam, khususnya jamaah di lingkungan Cikarang Barat, bahwa agama bukan sebatas rutinitas ritual yang hampa, melainkan harus dilandasi oleh rasa cinta, keikhlasan, dan kerinduan untuk terus mendekat kepada Allah SWT.
Maulana Jalaluddin Ar-Rumi bukan sekadar penyair romantik. Beliau adalah ulama besar yang berhasil menerjemahkan luasnya samudera ilmu syariat ke dalam bahasa kalbu. Membaca sejarah dan karya Rumi seyogianya mengantarkan kita pada pemahaman bahwa puncak dari segala ilmu adalah mengenal dan mencintai Allah SWT dengan seutuhnya.
REFERENSI
- Al-Qur’anul Karim.
- Al-Matsnawi, Maulana Jalaluddin Ar-Rumi.
- Tarikh/Sejarah Biografi Ulama (Catatan kelahiran 6 Rabiul Awal 604 H di Balkh).